Yamaha R25 vs Kawasaki NInja 250 Fi vs Honda CBR 250R (R25 hands on)

Hari minggu lalu di City Ride VGI Bikers, saya berkesempatan untuk menjajal Yamaha R25 secara langsung. Motor yang menjadi andalan Yamaha dewasa ini memang sukses buat sejagad dunia sepeda motor Indonesia pada kepow. Bagaimana tidak, Yamaha sepertinya menggunakan semua kekuatan media di Indonesia untuk mengangkat cerita mengenai motor ini. Gak percaya? Di TV ada MotoGP. Di tabloid motor, hampir setiap minggu ada saja pembahasannya. Internet apalagi, semua blog sepertinya enggak capek bahas motor ini.

Sebenarnya apakah live up to the hype? Apa memang segitu bagusnya motor ini?

VGI CIty Ride 31 Agustus 2014

VGI CIty Ride 31 Agustus 2014

Memang brand Yamaha punya faktor X bagi para penggemar MotoGP. Yamaha adalah brandnya Valentino Rossi, seorang pembalap MotoGP dengan 9 gelar juara dunia di tangannya. Gayanya yang sangat friendly dengan media dan penggemarnya di seluruh dunia menjadikannya media darling. Rossi jadi bagaikan seorang Rock Star, yang dipuja penggemar motor seluruh dunia.

So, tentu saja R25 jadi dinantikan para penggemar Valentino Rossi juga. Kasihan kan, selama ini penggemar Rossi seakan-akan terpaksa untuk membuat livery Fiat Yamaha di motor Ninja. Kalau ditanya kok ga beli Yamaha? “Yah… Yamaha adanya Scorpio, basi kali, kerenan Ninja…”

Halah, jadi analisa ga penting, kita langsung ke review deh ya.

Dulu saya pernah 2x punya Kawasaki Ninja 250R, membuat saya cukup berani mereview R25 walau hanya hands on sebentar. Empunya motor ini bilang kalau R25 punya power dan handling diatas Ninja 250Fi. Dari segi handling pula, motor ini katanya mirip dengan CBR 250 nya Honda. Saya pun penasaran. Kalau benar demikian begitu, motor ini berarti the best of two worlds. Maca cih?

My 2008 Ninja 250R, was epic

My 2008 Ninja 250R, was epic

Jadi, saat Aim mendarat dengan sempurna di sevel blok m (tempat kami biasanya ngumpul kalau City Ride), saya langsung melototin lagi R25 dari dekat. Sebelumnya sudah lihat sih di PRJ tahun ini, tapi lihat langsung kok beda ya. Lebih bagus. Waktu di PRJ keliatannya kurang ok,  mungkin karena kilauan R6 dan R1 disebelahnya jadi enggak bisa objektif. Kali ini, its a great morning, udara sejuk, dan hatipun jauh dari galau akibat lihat moge-moge yang teriak minta dibawa pulang.

Bentuk R25 cukup ok. Bagian depannya mirip dengan R6 tipe 2004-2007, hanya saja dibuat beberapa sudut yang modern. Motor ini sangat photogenic, aslinya enggak sekeren fotonya kok.

R25 tampak kiri

R25 tampak kiri

Materi finishing kalau kata saya sih masih bagusan seri Ninja. Kawasaki yang kalau kata orang Jepang adalah brand premium di negaranya, memang punya QC yang lebih baik. Tangki R25 kalau menurut saya agak aneh. Bentuknya melonjong jadi kurang pas melihatnya. Over all, menurut saya tampilan masih lebih ok Ninja 250 Fi, yang menurut saya lebih aerodinamis dan manis dilihat. Tapi guys, ini hanya masalah selera ya.

Dari dekat

Dari dekat

So saya naik ke motor ini, dan saya nyalakan mesinnya. Suara mesinnya mirip banget dengan Ninja 250. Tadinya saya pikir akan berbeda, tapi ternyata sama saja. Saya coba narik di jalan Bulungan yang pagi itu masih sangat kosong, tarikan bawahnya memang lebih dari Ninja. Saya muter di daerah Blok M Plaza, Melawai, dan Mahakam, gas pol, stop and go.

Berhubung artikel blog ini lebih berat di perbandingan R25 dengan Ninja 250 Fi, saya setelah itupun mencoba Ninja 250 Fi dari teman saya yang lain, karena beberapa bulan terakhir saya menggunakan 650cc. Ninja 250 Fi ini terasa punya power lebih diatas, tapi ini mungkin karena knalpotnya sudah racing. Dari handlingnya pun saya rasa sedikit lebih rigid dibanding R25. So its true…

Setelah mencoba R25 sekitar 10 menit saya punya kesimpulan berikut.

  1. Power bawah R25 lebih “ngisi” ketimbang Ninja.
  2. Handling sedikit lebih ok dari Ninja, mudah sekali diarahkan.
  3. Design overall masih bagusan Ninja (subjektif).
  4. Finishing sedikit dibawah seri Ninja.

Mungkin bagi orang yang jarang pakai motor, kedua motor ini akan terasa sangat sama. Saya juga harus mencoba mengingat-ngingat apa kira-kira yang menjadi perbedaan dua motor ini untuk bisa menulis blog ini. Tetapi yang jelas, menurut saya handling CBR 250 masih lebih mudah. Mungkin karena bodi CBR 250 yang lebih kecil, jadi lebih enak untuk dibawa belok. Finishing CBR 250 pun masih dibawah 2 motor ini (yang tipe lama yah guys, bukan yang baru). Dari gengsipun, Honda masih kalah karena 250cc Honda masih 1 silinder. Apalagi kalau Yamaha somehow iseng dan keluarin R25 versi Movistar dengan tanda tangan Valentino Rossi. Om pasti bayar satu.

r25-livery-movistar-yamaha-motogp-1

Rendering motoblast ini sukses bikin galaw

Sebagai tambahan, pemilik motor ini juga memiliki Ninja 250 Fi, dan menurutnya R25 lebih perkasa di track day Sentul. Handling dan tenaganya yang diatas Ninja 250 Fi bisa jadi membuat Kawasaki gerah dan sudah siap dengan penerus Ninja Fi yang belum begitu lama launch. Apakah berbentuk facelift? Atau peta mesin yang berbeda? Ataukah naik kelas jadi 4 cyl? Semuanya masih misteri. Tapi hal ini membuktikan kalau persaingan antar pabrikan akan berimbas naiknya kualitas. Siapa yang mengira Indonesia akan menjadi basis perang antar 250cc twin cyl? Its a great year for Indonesian bikers for sure.

Kirain bakal kayak gajah naik sepeda, ternyata masih pantes :p

Kirain bakal kayak gajah naik sepeda, ternyata masih pantes :p

Iklan

VGI City Ride Diary – Night Riding

City Ride kali ini agak beda. Harusnya rencananya pagi hari mau riding. Berhubung dini hari tadi ada pertandingan piala dunia Jerman Uruguay, khawatir ga bisa bangun nih para bikers.

Riding Malem Bareng si Merah?

Baca lebih lanjut

Mr. Kelly’s Moge Diary

Diatas langit ada langit, yang namanya manusia memang enggak ada puasnya. Biasanya orang awam akan mencibir kepada biker yang menghabiskan uang untuk motor besar/ moge. Umumnya cibirannya sih begini :

“Ah ngapain beli motor ratusan juta, toh masih kehujanan juga?”

“Mendingan gue beli mobil, lebay deh beli moge, sayang amat duitnya?”

Celaan seperti ini yang biasa kita dengarkan. Tapi dibalik itu, apakah benar semua yang dicibirkan?

Baca lebih lanjut

We Are Adrenaline Junkies!

Buat para pecinta speed yang sudah tahu nikmatnya adrenalin tertepa angin diatas speed 100kmph, pasti akan selalu akan rindu akan sensasi berkendaraan roda dua. Perasaan terbang melayang dan bebas dari segala apapun yang umumnya membuat para biker “sakaw” untuk ngebut.


Baca lebih lanjut

First ever VGI Bikers City Ride

Laporan singkat VGI Riding, total 6 motor.

Gue dateng jam 06:00 tepat waktu di lokasi. Hendro (ninja hijau) nongol 06:29. Andyzr dan Srusli datang jam 07:10. Dolores datang 07:20 (nyasar ke tamsur). Setelah foto, kita ke tamsur riding, untuk jemput mercurial.

Mercurial nongol 07:30. Lalu kita langsung jalan ke Dipenogoro, Salemba, Kwitang, Gambir, Lapangan banteng, Gurun Sahari (stop pertama, Andyzr dan Srusli kena lampu merah).


Baca lebih lanjut

City Ride VGI. Ikutan yuk!

Buat bikers yang ingin tahu rasanya bawa motor tanpa macet dan asep banyak di Jakarta, kami mencoba meramu sebuah rute seputar Jakarta yang bebas kendala dan nyaman dikendarai.

Rute tersebut adalah :

(Kumpul di) Taman Suropati/ Taman Menteng => Dipenogoro => Salemba => Kwitang => Monas => Gambir => Istiqlal => Pasar Baru => Gn Sahari => Mangga Dua => Glodok => Istana/ Thamrin => Sudirman => Blok M Plaza => Bulungan => Moestopo => Senayan => Gatot Subroto => Cawang => Pramuka => Manggarai => Kuningan => Kemang (stop di McD).

Setelah diperbicangkan sebentar, akhirnya saya dan Andyzr setuju untuk mencoba riding pagi di hari ini untuk mencoba rute tersebut. Berikut ini foto2 yang diambil tadi pagi.

Start di Taman Menteng jam 06:30

Start di Taman Menteng jam 06:30

Baca lebih lanjut

Suzuki FXR yang buat penasaran

Tau yang namanya obsessed? Gue baru bener-bener ngerasa jadi biker banget satu bulan terakhir ini. Mungkin bener kata si Yoga, gue masih termasuk hijau masalah motor.

Ceritanya gue kepincut dan penasaran yang namanya Suzuki FXR, gara-gara Ilham kafemotor ngomporin gue. Motor ini besar, keren dan performanya yahud. 150 cc, DOHC, monoshock, digital speedometer, berfairing, 6 speed, total build up, dan larinya lebih kencang dari Scorpio! Siapa yang enggak naksir kalau begini?

Sayangnya motor ini sudah stop produksi tahun 2003 kemarin. Di negara asalnya Malaysia, motor ini cukup ngetop. Karena motornya sudah 6 tahun, jadi mencari motor kondisi bagusnya benar-benar sulit.

Kelly's Suzuki FXR

Baca lebih lanjut

Thunder, Mega Pro, Tiger, dan Pulsar. Test Drive Pulsar bagian kedua

Setelah dipikir-pikir, Pulsar mirip sekali dengan Macintosh ya?

Saking bagusnya, kita ingin semua orang mencobanya. Tapi sayangnya tidak semua orang percaya karena merk Jepang (dan Windows) sudah menjadi image ideal. Orang memang sangat takut akan perubahan. Perubahan berupa kualitas yang jauh diatas dan harga yang lebih murah. Its just too good to be true, right?

Mr. Kelly's Bajaj Pulsar 180

Kelly's Bajaj Pulsar 180

Baca lebih lanjut

Test Drive Pulsar 180 di Bajaj Daan Mogot

Hari jumat lalu gue test drive Pulsar di Bajaj Daan Mogot.

Yang nemenin gue namanya Trisno. Montir Pulsar yang sepertinya sudah sangat dipersiapkan oleh Bajaj. Well, kalau dipikir semuanya juga dipersiapkan dengan sempurna oleh Bajaj. SDM kualitas tinggi, lokasi yang strategis, interior yang mendukung penjelasan produk (ada mesin yang dibelah, knalpot, hingga jet yang dipajang satu persatu).

Bajaj Pulsar 180

Bajaj Pulsar 180 DTS-i

Baca lebih lanjut